Tahu, Makanan Favorit yang Keamanannya Perlu Diwaspadai

7c

Selasa, 25 Agustus 2009

PENINGKATAN kualitas sumber daya manusia salah satunya ditentukan oleh kualitas pangan yang dikonsumsinya.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 menyatakan bahwa kualitas pangan yang dikonsumsi harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya adalah aman, bergizi, bermutu, dan dapat terjangkau oleh daya beli masyarakat.

AMAN yang dimaksud di sini mencakup bebas dari cemaran biologis, mikrobiologis, kimia, logam berat, dan cemaran lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia. Salah satu makanan yang sering dikonsumsi adalah tahu.




Tahu merupakan pangan yang populer di masyarakat Indonesia walaupun asalnya dari China. kepopuleran tahu tidak hanya terbatas karena rasanya enak, tetapi juga mudah untuk membuatnya dan dapat diolah menjadi berbagai bentuk masakan serta harganya murah.

Selain itu, tahu merupakan salah satu makanan yang menyehatkan karena kandungan proteinnya yang tinggi serta mutunya setara dengan mutu protein hewani. Hal ini bisa dilihat dari nilai NPU ( net protein utility) tahu yang mencerminkan banyaknya protein yang dapat dimanfaatkan tubuh, yaitu sekitar 65 persen, di samping mempunyai daya cerna tinggi sekitar 85-98 persen.

Oleh karena itu, tahu dapat dikonsumsi oleh segala lapisan masyarakat. Tahu juga mengandung zat gizi yang penting lainnya, seperti kemak, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang cukup tinggi.

Selain memiliki kelebihan, tahu juga mempunyai kelemahan, yaitu kandungan airnya yang tinggi sehingga mudah rusak karena mudah ditumbuhi mikroba. Untuk memperpanjang masa simpan, kebanyakan industri tahu yang ada di Indonesia menambahkan pengawet. Bahan pengawet yang ditambahkan tidak terbatas pada pengawet yang diizinkan, tetapi banyak pengusaha yang nakal dengan menambahkan formalin.

Selain itu, banyak juga menambahkan pewarna methanyl yellow. Formalin dan metahnyl yellow merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang dilarang penggunaannya dalam makanan menurut peraturan Menteri Kesehatan (Menkes) Nomor 1168/Menkes/PER/X/1999.

Formalin

Formalin adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kadar 3040 persen. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk sudah diencerkan, yaitu dengan kadar formaldehidnya 40, 30, 20 dan 10 persen serta dalam bentuk tablet yang beratnya masing-masing sekitar 5 gram.

Formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Jika kandungannya dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan keracunan pada tubuh.

Selain itu, kandungan formalin yang tinggi dalam tubuh juga menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan bersifat mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel/jaringan), serta orang yang mengonsumsinya akan muntah, diare bercampur darah, kencing bercampur darah, dan kematian yang disebabkan adanya kegagalan peredaran darah. Formalin bila menguap di udara, berupa gas yang tidak berwarna, dengan bau yang tajam menyesakkan, sehingga merangsang hidung, tenggorokan, dan mata.

Pewarna makanan merupakan bahan tambahan pangan yang dapat memperbaiki penampakan makanan. Penambahan bahan pewarna makanan mempunyai beberapa tujuan, di antaranya adalah memberi kesan menarik bagi konsumen, menyeragamkan dan menstabilkan warna, serta menutupi perubahan warna akibat proses pengolahan dan penyimpanan.

Secara garis besar pewarna dibedakan menjadi dua, yaitu pewarna alami dan sintetik. Pewarna alami yang dikenal di antaranya adalah daun suji (warna hijau), daun jambu/daun jati (warna merah), dan kunyit untuk pewarna kuning.

Kelemahan pewarna alami ini adalah warnanya yang tidak homogen dan ketersediaannya yang terbatas, sedangkan kelebihannya adalah pewarna ini aman untuk dikonsumsi.

Jenis yang lain adalah pewarna sintetik. Pewarna jenis ini mempunyai kelebihan, yaitu warnanya homogen dan penggunaannya sangat efisien karena hanya memerlukan jumlah yang sangat sedikit. Akan tetapi, kekurangannya adalah jika pada saat proses terkontaminasi logam berat, pewarna jenis ini akan berbahaya.

Selain itu, khusus untuk makanan dikenal pewarna khusus makanan (food grade). Padahal, di Indonesia, terutama industri kecil dan industri rumah tangga, makanan masih sangat banyak menggunakan pewarna nonmakanan (pewarna untuk pembuatan cat dan tekstil).


Pewarna pada tahu

Penelitian yang dilakukan oleh Mena (1994) menemukan bahwa tahu yang beredar di pasar tradisional Jakarta 70 persen mengandung formalin dengan kadar 4.08-85.69 ppm (part per million).

Penelitian Tresniani (2003) di Kota Tangerang menunjukkan terdapat 20 industri tahu yang terdiri dari 11 industri tahu kuning dan sembilan industri memproduksi tahu putih. Kandungan formalin tahu berkisar dari
2-666 ppm, sedangkan kandungan methanyl yellow-nya hanya terdapat pada tiga jenis tahu yang semuanya diperoleh dari pasar, yaitu berkisar antara 3.41-10.25 ppm.

Penelitian yang lain dilakukan oleh Melawati (2004) terhadap lima sampel tahu Sumedang yang diambil langsung dari produsen tahu yang terletak di Jalan Mayor Abdurrahman (tiga pabrik) dan Jalan 11 April (dua pabrik) semuanya menunjukkan hasil negatif atau semuanya tidak mengandung formalin. Hal ini bisa dimengerti karena produsen tidak perlu menambahkan pengawet karena tahu yang diproduksinya habis hanya dalam tempo satu hari.

Tahu kalau tidak diawetkan hanya tahan disimpan selama dua hari bila direndam dalam air sumur atau air keran yang bersih.


Beberapa cara pengawetan yang biasa dilakukan adalah:

* Tahu direbus selama 30 hari kemudian direndam dalam air yang telah dimasak, daya simpannya bisa menjadi empat hari.
* Tahu direbus, kemudian dibungkus plastik dan disimpan di lemari es, memiliki daya tahan delapan hari;
* Tahu diawetkan dengan direndam natrium benzoat 1.000 ppm selama 24 jam dapat mempertahankan kesegaran selama tiga hari pada suhu kamar;
* Tahu direndam dalam vitamin C 0,05 persen selama empat jam dapat mempertahankan tahu selama dua hari pada suhu kamar;
* Tahu direndam dalam asam sitrat 0,05 persen selama delapan jam akan segar selama dua hari pada suhu kamar.



Tips memilih tahu

Tahu yang mengandung formalin dapat ditandai dengan:

* Semakin tinggi kandungan formalin, maka tercium bau obat yang semakin menyengat; sedangkan tahu tidak berformalin akan tercium bau protein kedelai yang khas;
* Tahu yang berformalin mempunyai sifat membal (jika ditekan terasa sangat kenyal), sedangkan tahu tak berformalin jika ditekan akan hancur;
* Tahu berformalin akan tahan lama, sedangkan yang tak berformalin paling hanya tahan satu dua hari.
* Tahu yang memakai pewarna buatan dapat ditandai dengan cara melihat penampakannya. Jika tahu memakai pewarna buatan, warnanya sangat homogen/seragam dan penampakan mengilap. Sedangkan jika memakai pewarna kunyit, warnanya cenderung lebih buram (tidak cerah). Jika kita potong tahunya, maka akan kelihatan bagian dalamnya warnanya tidak homogen/seragam. Bahkan, ada sebagian masih berwarna putih.*


sumber : http://tipsehat.blogspot.com/
READ MORE - Tahu, Makanan Favorit yang Keamanannya Perlu Diwaspadai

Kurangi Konsumsi Makanan Manis

2c

Selasa, 28 Juli 2009

WALAUPUN tidak menyebabkan kematian, penyakit gigi dan mulut dapat menurunkan produktivitas. Namun, hal tersebut ternyata bisa dicegah dengan mengurangi konsumsi makanan yang mengandung banyak gula.

Penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita yaitu penyakit jaringan penyangga gigi dan karies, yang berkaitan dengan kebersihan mulut dan juga berkaitan dengan perilaku dalam merawat kesehatan.


Salah satu penyebab timbulnya penyakit sistemik adalah infeksi gigi atau kelainan pada gigi dan gusi. Penyakit ini disebabkan selain karena penyakit penyerta, obat-obatan, rokok, alkohol dan tembakau, juga bisa karena konsumsi gula berlebihan," tutur dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Internasional Bintaro, dr Tengku Bahdar Djohan SpPD.

Gula dibagi atas gula monosakarida (glukosa, fluktosa, dan galaktosa, maltosa, dan sukrosa). Glukosa ini bisa didapatkan dari buah-buahan, sayuran, madu dan sirup jagung. Fluktosa bisa didapat dari buah-buahan dan madu. Laktosa bisa didapat dari susu. Sedangkan sukrosa berasal dari gula pasir dan pemanis (untuk cokelat, permen, kue, dan lain-lain).

"Dari seluruh jenis gula, sukrosa yang paling berbahaya. Sukrosa ini adalah golongan glukosa yang paling cepat diubah menjadi asam oleh mikroba di mulut (streptococcus mutans)," sebut Dr. Tri Erri Astoeti, drg, Mkes.

Tri Erri menjelaskan, konsumsi gula sulit untuk kita hindari dan tanpa kita sadari hal tersebut, dapat dikatakan bahwa konsumsi gula di Indonesia terus meningkat.

Total konsumsi gula di Indonesia pada 2002 tercatat 3,3 juta ton. Pada tahun-tahun berikutnya konsumsi secara konsisten meningkat dengan laju 4,2 persen per tahun, dan pada 2009 doperkirakan mencapai 4,85 juta ton.

"Artinya, tanpa perawatan gigi yang baik dan benar, ancaman gigi berlubang semakin sulit untuk dihindarkan," tandasnya di acara yang sama.

Oleh sebab itu, Erri menyarankan untuk merawat gigi sebaik mungkin yang bisa dimulai dari perawatan diri sendiri seperti menyikat gigi. Menyikat gigi merupakan proses pembersihan gigi yang rutin dilakukan orang

sumber : okezone
READ MORE - Kurangi Konsumsi Makanan Manis

Cegah Alergi dengan ASI Eksklusif

0c
JIKA tidak ditangani, alergi akan menghambat proses perkembangan anak. Sebab itu, atasi sejak dini penyakit alergi yang bisa dilakukan dengan pemberian ASI eksklusif.

Ketua Divisi Alergi-Imunologi Bagian Ilmu Kesehatan anak FKUI-RSCM, Dr Zakiudin Munasir SpA (K) menuturkan, tidak sedikit orang yang menyepelekan alergi sehingga ketika periksa ke dokter, kondisinya menjadi lebih parah.



"Alergi akan memengaruhi kualitas hidup seseorang, baik pada orang dewasa maupun anak-anak," sebut Zakiudin. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa susu menjadi golongan makanan yang memengaruhi timbulnya alergi. Susu sapi merupakan protein asing utama bagi bayi pada bulan-bulan awal kehidupan yang dapat menimbulkan reaksi alergi pertama. Karena fungsi ususnya belum sempurna, protein susu sapi tidak bisa dipecah dengan sempurna.

"Sekitar 4,1 persen alergi terjadi karena konsumsi susu," ujarnya. Pencegahan bisa dilakukan dengan melakukan eliminasi makanan alergen, yaitu dengan mengganti dengan makanan yang senilai untuk mencegah malanutrisi.

"Umumnya, alergi makanan akan menghilang dalam jangka waktu tertentu, dan pencegahan sejak dini bisa dilakukan dengan pemberian ASI eksklusif," ucap dokter kelahiran Mojokerto, 14 Agustus 1953.

Sedangkan untuk mencegah anak yang lahir dari orang tua yang mengidap alergi bisa dilakukan dengan probiotik. Probiotik adalah bakteri hidup yang memiliki efek menguntungkan untuk menguatkan dan meningkatkan kesehatan flora usus. Probiotik merupakan salah satu cara yang dapat membantu mengurangi risiko alergi.

"Konsumsi probiotik pada ibu hamil dapat meningkatkan daya tahan ibu yang juga akan berpengaruh baik pada janin," ujar dokter lulusan Universitas Indonesia ini. Selain itu, ibu hamil juga harus menghindari pencetus alergi atau alergen saat mengandung. Ibu hamil sebaiknya sadar akan pencetus alergi dan menghindarinya.

Namun, kemungkinan anak mengidap alergi masih dapat terjadi ketika anak lahir. Untuk itu, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan atau lebih diperlukan agar anak memiliki daya tahan tubuh yang baik dan mengurangi terpaparnya risiko alergi dan infeksi.

ASI mengandung zat gizi lengkap yang dibutuhkan bayi termasuk hypo allergenik, DHA, dan probiotik. Nilai lebihnya ASI mengandung kolostrum yang dapat melindungi bayi dari alergi dan infeksi. Namun, ada kondisi ketika seorang ibu tidak dapat memberikan asupan ASI maksimal. Di antaranya karena pembengkakan dan peradangan payudara hingga produksi ASI berkurang. Untuk meningkatkan jumlah probiotik dalam ASI, ibu yang sedang menyusui bisa mengonsumsi yoghurt, tempe, miso, atau buttermilk.

Dikatakan oleh ahli alergi imunologi dari Divisi Alergi Imunologi Klinik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam dari RSCM, Dr Iris Rengganis SpPD, KAI bahwa alergi mempunyai banyak penyebab walaupun lebih besar terjadi karena faktor genetik. Akan tetapi mengatasi dengan mengenal tanda-tanda alergi terlebih dahulu terhadap makanan juga perlu dilakukan orang tua. "Orang tua harus mengenali anak yang alergi terhadap makanan dengan mengenal gejala dan segera tangani dengan membawanya ke dokter," ujarnya.

sumber : okezone

READ MORE - Cegah Alergi dengan ASI Eksklusif

Mengatasi Alergi Obat

1c

Minggu, 26 Juli 2009

IBARAT makan buah simalakama, alergi obat memang sangat merepotkan. Jika tidak diminum, penyakit tidak sembuh dan semakin merajalela, jika diminum akan menimbulkan alergi.

Penelitian terhadap alergi obat sudah sering kali dilakukan. Beberapa penelitian mengungkapkan reaksi yang tidak diinginkan pada penggunaan obat terjadi sekitar dua persen dari sejumlah pasien yang mengonsumsi obat. Reaksi alergi obat ini biasanya ringan

Tapi ada juga yang sampai mengancam nyawa. Alergi obat memiliki banyak perbedaan pada masing-masing orang. Misalnya pada penderita udem laring (sembab), syok anfilaktik, serta sindrom Stecvvens-Johnson. Udem laring atau penderita sesak napas, jika mengalami alergi obat akan merasakan seperti orang tercekik.

Pada penderita syok anfilaktik terjadi penurunan tekanan darah dan pada penderita sindrom Stevens-Johnson akan merasakan kulit dan selaput lendir berubah bentuk. Kematian karena alergi, tidak hanya terjadi di negara berkembang, juga di negara maju yang fasilitas kesehatannya supermaju. Bahkan, di negara-negara Eropa masih terjadi kematian karena alergi obat.

Oleh karena itu, di Eropa dibentuk jaringan pemantau alergi obat yang merekam semua kejadian dan memberikan informasi alergi obat yang sering terjadi.

"Alergi obat biasanya terjadi karena tubuh seseorang sangat sensitif sehingga bereaksi secara berlebihan terhadap obat yang digunakan. Tubuh berusaha menolak obat tersebut, namun reaksi penolakannya amat berlebihan sehingga merugikan tubuh sendiri. Reaksi itu bisa berupa gatal, sesak napas, penurunan tekanan darah, reaksi kulit disertai kelainan pada selaput lendir saluran cerna, sindrom Stevens-Johnson pada saluran napas dan kemaluan," kata dokter spesialis kulit Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr Abdillah Achmad.

Abdillah menyebutkan, risiko alergi obat meningkat pada orang yang memiliki bakat alergi atau dalam istilah kedokteran disebut dengan atopi. Untuk menghindari terjadinya alergi obat, perlu kerja sama antara pasien dan dokter. Pasien harus mengemukakan pengalamannya menggunakan obat selama ini, apakah obat tertentu membuat tubuh alergi atau dicurigai menimbulkan alergi.

"Akan sangat bagus jika setiap orang memiliki catatan tertulis mengenai penggunaan obat dan apa yang dialami tubuhnya. Itu akan sangat memudahkan pemberian obat jika suatu saat dibutuhkan," katanya.

Obat yang dicurigai menyebabkan alergi harus dihindari dan jika diperlukan,dipilih obat yang lebih aman. Meski dapat juga terjadi walaupun tidak sering, seorang yang semula tidak alergi terhadap suatu obat kemudian hari bisa pula menjadi alergi obat.

"Hindari mengonsumsi obat jika tidak perlu. Vitamin diduga aman, sekalipun dapat menimbulkan alergi, bukan karena zat aktif vitaminnya, tapi karena zat tambahan dalam pembuatan obat seperti zat pewarna yang ada di dalamnya," sebut dokter berkacamata minus tersebut.

Pasien yang mengalami reaksi yang tidak diinginkan karena penggunaan obat, harus segera ke dokter untuk mendapatkan pertolongan. Untuk menghentikan alergi obat, hanya ada satu cara yaitu dengan menghentikan pemakaian obat itu, dan mengatasi keadaan yang timbul akibat alergi. Saat ini obat yang beredar di masyarakat jumlahnya jutaan.

Tiap tahun ratusan obat baru diperkenalkan kepada masyarakat. Sebelum obat diizinkan beredar, harus melalui pengujian ketat Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Tentu obat yang diberikan izin beredar yang bermanfaat dan aman. Namun, tidak ada obat yang bermanfaat dan seratus persen aman.

Lebih lanjut ditambahkan Dr Abdillah Achmad, reaksi alergi terhadap obat muncul tanpa diduga. Seseorang yang tadinya tidak apa-apa minum obat tertentu, suatu ketika bisa saja merasa gatal sekujur tubuhnya setelah minum obat tersebut.

"Jangka waktu munculnya alergi bisa cepat, bisa sangat lambat, semuanya tergantung reaksi tubuh," tutur dia.

Demikian pula berat ringannya reaksi alergi. Seseorang mungkin langsung syok tak sadarkan diri sesaat setelah minum obat yang membuatnya alergi. Sementara yang lain hanya gatal, beberapa saat kemudian hilang gatalnya. Bagi kalangan awam, reaksi alergi dianggap keracunan.

Ini berbeda. Reaksi alergi adalah reaksi berlebihan tubuh terhadap bahan tertentu (dalam hal ini obat), sedangkan keracunan (intoksikasi) adalah reaksi yang muncul karena pemakaian obat yang berlebihan hingga melebihi batas toksis berdasarkan batasan farmakologi.

Di era modern seperti sekarang, rekam medik sangat mudah. Bisa menggunakan peranti apapun, pengolah kata, spreadsheet, database atau peranti lain seperti PIM (Personal Information Manager, dengan sedikit modifikasi) atau peranti khusus seperti Medibank. Bila dokter tidak memberikan catatan riwayat alergi obat, penderita berhak memintanya.

Sementara sejumlah pihak berpendapat bahwa kasus alergi disamakan dengan malapraktik, terlebih jika mengakibatkan efek berat semisal Steven Johnson Syndrome atau akibat fatal misalnya kematian. Terlepas dari kendala menyangkut alergi obat, sudah selayaknya para dokter melengkapi dirinya (praktik pribadi ataupun bekerja di institusi layanan medis) dengan peranti rekam medik.

Setidaknya menggunakan lembar status penderita agar alergi obat bisa dihindari. Salah seorang penderita alergi obat, Dewi Andika Pratama, mengaku sangat kaget ketika dirinya mengalami alergi karena obat. Padahal sebelumnya Dewi mengaku tidak ada masalah dengan obat apa pun yang dikonsumsinya.

"Saya alergi obat, baru-baru ini saja. Biasanya kulit saya langsung gatal dan bengkak-bengkak jika mengonsumsi obat penghilang nyeri. Itu membuat saya datang ke dokter dan berkonsultasi," kata Dewi ditemui di RSCM beberapa waktu lalu. (Koran SI/Koran SI/nsa)

READ MORE - Mengatasi Alergi Obat

Kenali Alergi Makanan pada Anak

0c
BUAH HATI Anda mengalami bibir seriawan tanpa disertai rasa sakit, gatal-gatal atau garis mata yang celong? Bisa jadi si kecil mengalami alergi akibat makanan yang telah dikonsumsinya.

Istilah alergi berasal dari bahasa Yunani, yaitu allon argon, yang artinya sebagai reaksi yang berbeda atau menyimpang dari normal terhadap berbagai rangsangan atau zat dari luar tubuh. Misalnya terhadap makanan, debu, obat-obatan dan sebagainya.

Ketua Divisi Alergi-Imunologi Bagian Ilmu Kesehatan anak FKUI-RSCM Dr Zakiudin Munasir SpA (K) menjelaskan, alergi merupakan suatu reaksi kekebalan tubuh yang menyimpang atau berubah dari normal yang dapat menimbulkan gejala yang merugikan tubuh, dimulai dari gangguan pernapasan, kulit, hingga mata. "Banyak orang tua yang menganggap enteng akan tanda-tanda alergi ini. Padahal, alergi dapat berisiko terhadap tumbuh kembang anak," tuturnya.

Zakiudin menyebutkan, seseorang dapat menderita alergi jika salah satu atau kedua orang tuanya memiliki riwayat alergi. Hal ini menunjukkan bahwa alergi bersifat genetik. "Kenali tanda-tanda alergi pada anak yang bisa berasal dari beragam penyebab," ucapnya dalam diskusi media yang mengangkat tema "Apakah Alergi Diturunkan secara Genetik" yang diadakan Nestle Indonesia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Penyakit alergi biasanya mengenai anak yang mempunyai bakat alergi yang disebut atopik, atau atopik syndrome. Atopik berasal dari bahasa Yunani, yaitu topos,yang berarti "tempat", A-topos artinya "tidak pada tempatnya".

Bisa juga dikatakan sebagai alergi atau keadaan tubuh atau kulit yang hipersensitif, menyerang sebagian dari tubuh yang tidak kontak langsung dengan penyebab alergi (allergen).

"Walaupun risikonya kecil, lompat generasi juga bisa menjadi faktor risiko timbulnya alergi secara genetik," kata mantan Ketua Satgas HIV IDAI ini.

Adanya data yang menunjukkan bahwa penyakit alergi yang terjadi pada anak-anak Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini semakin meningkat jumlah penderitanya.

Di mana hal itu disebabkan selain karena faktor genetik, juga dipengaruhi perubahan pola hidup masyarakat yang semakin modern. Semakin modern pola hidup, maka akan semakin beraneka ragam zat yang terkandung di dalam makanan dan minuman. "Faktor lingkungan dan gaya hidup orang tuanya, sangat memengaruhi anak untuk terpapar alergi," sebut Ketua Perhimpunan Alergi-Imunologi (Peralmuni) cabang Jakarta Raya.

Zakiudin menyebutkan, di Amerika Serikat angka kejadian alergi pada anak prasekolah 10 hingga 12 persen, dan pada usia sekolah 8,5 sampai 12,2 persen. Departemen Pertanian di Amerika Serikat menyebutkan bahwa 15 persen populasi alergi disebabkan makanan/ bahan makanan. Sedangkan di Indonesia, angka kejadian alergi pada anak Indonesia belum banyak diteliti tetapi beberapa ahli memperkirakan sekitar 25 persen-40 persen anak pernah mengalami alergi makanan.

"Sekitar 20 persen anak usia satu tahun pernah mengalami reaksi terhadap makanan yang diberikan, termasuk yang disebabkan reaksi alergi," tutur mantan Ketua Kelompok Kerja Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Alergi makanan turut menjadi pencetus terjadinya penyakit alergi. Yang sering disebutkan adalah makanan laut yang mempunyai kandungan gizi sangat tinggi. Sebut saja cumi-cumi, udang, kepiting, atau ikan laut lainnya.

Bahkan dikatakan Zakiudin, beberapa anak ada yang sangat sensitif dan menimbulkan sesak napas atau bersin-bersin, walaupun hanya mencium bau ikan saat sedang dimasak.

"Untuk anak yang alergi terhadap makanan laut, kandungan proteinnya bisa digantikan produk ikan air tawar," katanya.

Golongan makanan lain yang sering menjadi pencetus alergi di antaranya susu sapi, telur, kacang-kacangan, termasuk kacang tanah dan kacang kedelai, juga gandum yang dikenal dengan istilah "Baker Asthma".
Bahan sintetis berupa pengawet (benzoat), penyedap (MSG) dengan gejala chinese restaurant syndrome dan pewarna (tartrazine) juga memengaruhi.

Gejala klinis dapat diketahui, di mana gejala sebagian besar mengenai saluran cerna karena kontak yang pertama kali adalah bengkak dan gatal di bibir sampai lidah dan orofarings, nyeri dan kejang perut, muntah sampai diare berat dengan tinja berdarah. "Seriawan tanpa disertai rasa sakit, mata celong dengan garis dennies atau keriput di bawah mata, hidung gatal, atau bersin-bersin adalah reaksi terhadap alergi yang umum terjadi," ujar Zakiudin.

Ahli alergi imunologi dari Divisi Alergi Imunologi Klinik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam dari RSCM, Dr Iris Rengganis SpPD, KAI mengatakan, asma juga menjadi salah satu gejala yang ditimbulkan pada alergi yang biasanya adalah dari alergi terhadap debu.

Seperti pada asma bronchial intrinsik. Asma bronchial adalah suatu penyakit kronis yang ditandai peningkatan kepekaan saluran napas terhadap berbagai rangsang dari luar (debu, serbuk, bunga, udara dingin atau makanan) yang menyebabkan penyempitan saluran napas yang meluas dan dapat sembuh spontan atau dengan pengobatan.

Jenis ini umumnya muncul apabila penderita asma mengalami gangguan psikis, stres, olahraga berat, dan perubahan cuaca yang drastis. Sifatnya lebih kronis, juga disertai dahak berkelanjutan. "Pemilihan olahraga ringan seperti renang bisa dilakukan untuk penderita alergi dengan gejala asma," ucapnya.

sumber: okezone
READ MORE - Kenali Alergi Makanan pada Anak